Kamis, 26 Juni 2014

Makalah Pendidikan

makalah pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pembangunan pendidikan sangat penting karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Karena itu, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, yang mewaj\ibkan pemerintah bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran tanpa terkecuali, baik yang kaya maupun yang miskin dan masyarakat perkotaan maupun pedesaan (terpencil). Kurang meratanya pendidikan di Indonesia terutama akses memperoleh pendidikan bagi masyarakat miskin dan terpencil menjadi suatu masalah klasik yang hingga kini belum ada langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk menanganinya. Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam mulai dari desa terpencil sampai di kota besar, ditambah dengan kondisi sosial ekonomi yang beragam pula, menjadikan pelaksanaan pemerataan pendidikan dalam rangka menuntaskan wajib belajar 9 tahun menjadi terhambat. Pemerataan pendidikan di Indonesia masih belum maksimal, terbuktinya SDM masyarakat pedesaan yang masih rendah ketika masyarakat desa datang ke kota besar dan mereka umumnyabekerja sebagai buruh dan ada pula yang hanya menjaga sepengangguran Meskipun pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun kepada semua warganya hal ini tidak berjalan dengan baik di daerah pedesaan yang terpencil di Negara kita, salah satu masalah yang menjadi hambatan adalah kondisi geografis














1.2 Rumusan Masalah
1.  Apa saja permasalahan yang menghambat pemerataan pendidikan jika dalam sisi geografis ?
2.  Apa saja permasalahan-permasalahan atau hambatan dalam pemerataan pendidikan di Indonesia ?
3. Bagaimana solusi dalam permasalahan hambatan dalam pemerataan pelaksanaan pemerataan indonesia ?
1.3 Tujuan
1.  Mengetahui masala-masalah yang menjadi penghambat dalam pemerataaan dalam keadaan  geografis.
2.   Mencari solusi agar pelaksanaan pemerataan pendidikan dapat berjalan sesuai rencana  pemerintah





BAB II
PEMBAHASAN
Kondisi di desa yang sebagian besar minim sarana dan prasarana menjadikan masalah bagi masyarakat di desa terutama bagi pelajar untuk mengikuti program yang diwajibkan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun. Tidak meratanya prasarana sekolah di desa membuat masih adanya jarak yang jauh antara sekolah dengan pemukiman para penduduk., di sana  juga belum banyak tenaga pengajar(guru) yang sesuai setandar negara yaitu setrata, disana belum bisa menyempurnakan kopetensi yang selalu berubah-ubah tiap tahunya, jadi bukan hanya masalah Kondisi geografis yang menjadi  penghambat para siswa untuk belajar, tetapi juga dengan kondisi geografis yang seperti ini siswa berangkat ke sekolah berjalan kaki dengan  jalanan yang masih alami sehingga becek jika turun hujan, adanya sungai yang memisahkan pemukiman penduduk dengan tempat mereka sekolah, kondisi jalanan yang berbukit dan masih banyaknya hutan dan terisolirnya desa terpencil dengan pusat kota atau desa yang lebih maju. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kondisi para pelajar dan guruyang berada di desa terpencil karena para pemuda di Negara ini berhak menerima pendidikan yang layak sesuai ketentuan UUD dan juga untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun karena dengan program ini SDM Negara kita akan lebih terangkat dari sebelumnya. Pemerintah juga sebaiknya membangun jalan-jalan di daerah terpencil khususnya dan menyediakan transportasi bagi para pelajar untuk memudahkan mereka sampai ke sekolah, bisa juga dengan adanya pembangunan jembatan untuk pemukiman penduduk yang terisolir karena sungai atau pun jurang. Kondisi alam yang menyulitkan, jarangnya sarana transportasi, tidak adanya sekolah di desa terpencil membuat pelajar harus berjalan jauh ketika hendak berangkat sekolah. Banyak siswa yang harus menempuh jarak kiloan meter dengan berjalan kaki untuk sampai di lokasi sekolah. Ketika sekolah dimulai pada pukul tujuh, para pelajar harus sudah berangkat dari rumahnya pada pagi buta. Berjalan kaki dengan membawa obor untuk menerangi jalan yang dilalui. Dengan kondisi seperti ini jelas para pelajar desa ini tidak sempat untuk sarapan. Kondisi lelah setelah berjalan jauh dan perut yang kosong membuat para siswa mengantuk dan tidak bisa berpikir optimal di jam-jam pelajaran. Keadaan seperti ini jelas lebih parah ketika musim hujan. Orang-orang di pedalaman seperti Irian dan Kalimantan tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan kita. Pemerintah menghindar dari kewajibannya membuka daerah-daerah terpencil, namun juga menutup upaya organisasi lain. Pemerintah seharusnya membuka dan tidak menghalang-halangi pekerjaan LSM-LSM untuk membuka daerah-daerah terpencil di Irian dan Kalimantan, sekalipun LSM tersebut adalah Misi Penginjilan dari luar negeri. Selama ini birokrasi pemerintah secara efektif menghalangi upaya pembukaan daerah-daerah terpencil tersebut yang berasal dari misi LSM Kristen Kampus-kampus di Indonesia Timur tidak memperoleh alokasi yang sama dengan kampus-kampus di bagian barat. Bantuan yang besar lebih banyak dihabiskan untuk pengembangan kampus di Jawa



Masalah  pendidikan yang ada di indonesia sangat lah banyak
Miris, itulah kata yang menggambarkan indonesia. Mulai dari pro-kontrak ujian nasional jual beli ijaza dan gelar, sampai tidak meratanya sarana  pendidikan . di semua daerah. Indonesia adalah Negara yang besar baik dari sisi luas wilayah dan jumlah penduduknya dengan segala potensi yang ada, seharusnya kita bis bersaing bahkan mengungguli negara negara yang besardunia. Sayang keurikulum yang ditetapkan masih belum mampu memberikan hasil yang optimal.  Masalah yang ada antara lain: Masalah pendidikan di indonesia, secara umum mencakup SDM, Sarana dan Prasarana, Guru Profesional, Manajemen Pendidikan, dan masalah kurikulum serta kualitas pembelajaran.
1.Adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal.
Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain. Nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.
2. Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan(yg sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah.
Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai. Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang tidak membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh. Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi kecil harapan pendidikan bisa lebih maju/baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yg berkualitas mesti bermodal/berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan
3. Negara belum mampu melaksanakan amanat UUD yaitu 20% APBN untuk pendidikan.
-sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung.
-keprofesionalan guru yang rendah.
-kesejahteraan guru yang rendah (terkait dengan keprofesionalan).
-pendidikan dijadikan komoditas politik dalam pilkada-pilkada ,dengan kampanye pendidikan gratis
-belum meratanya pendidikan yang layak bagi seluruh daerah diIndonesia
-belum sesuainya pendidikan dengan karakter daearah-daerah dan karakter Indonesia
4. Orientasi ijazah dan gelar
Salah satu kerusakan dimulai dari masyarakat sekitar kita, yang menanamkan bahwa gelar adalah hal yang sangat dihormati, sambil melupakan kualitas intelektual yang dimiliki seseorang. Hal ini diperkuat oleh para pemilik gelar yang hobi menonjol-nonjolkan gelarnya
 5. Tidak ada penelitian dan budaya penelitian
Budaya penelitian adalah budaya yang sangat vital dan harus dikembangkan sejak pendidikan dasar. Pengembangannya terkait dengan adanya aktifitas guru/dosen untuk melakukan penelitian, serta adanya sistem yang kondusif untuk melakukan penelitian. Saat ini keduanya tidak ada. Penelitian di perguruan tinggi lebih merupakan sarana kenaikan golongan bagi dosen.Apalagi di PT teknik
6. Kurikulum nasional dan metode pengajaran
Penegmbangan kurikulum nasional selama ini sangat kacau. Perubahan kurikulum hingga saat ini lebih mencerminkan selera daripada adanya suatu pengembangan yang baik
7. Buruknya standarisasi lembaga pendidikan
Keberadaan lembaga pendididkan penjual gelar sangat merusak dunia pendidikan di Indonesia. Lembaga pendidikan tidak mengalami proses standarisasi yang baik sehingga tidak ada jaminan kualitas lembaga pendidikan di Indonesia
8. Diskriminasi, KKN, dan kronisme
Diskriminasi ras, agama, dan etnis sangat terasa dalam level yang lebih tinggi. Dosen-dosen minoritas mendapat perlakuan berbeda, dan mengalami pembatasan posisi. Sebagai akibatnya iklim intelektual  hilang sama sekali


9. Perusakan mental
Hampir seluruh PT dan akademik bertanggung jawab atas perusakan mental generasi muda. Mulai dari pencurian hak cipta, plagiat, pemalsuan tanda tangan, korupsi dana, dan berbagai praktek rusak dipelajari dalam dunia pendidikan. Bukan hanya sipil, tetapi juga militer. Pemerasan mulai dipelajari di akademi kepolisian, serta tindak kekerasan dan penindasan mulai dipelajari di akademi militer
10. Faktor ekonomi
Suatu hal yang sulit bahwa perekonomian yang buruk sangat menghambat perkembangan dan perbaikan dunia pendidikan di Indonesia. Gaji guru yang rendah sulit diatasi secara nasional. Otonomi daerah kemungkinan akan membawa perbaikan atas masalah gaji guru ini
11. Birokrasi departemen pendidikan

Birokrasi adalah penyakit nasional. Mental penyeragaman dan mental feodalis mengakibatkan departemen pendidikan lebih banyak berfungsi sebagai penghambat pengembangan dunia pendidikan. Ini harus diubah. Berbagai penyeragaman harus dihapuskan, dan sebagian lagi harus diserahkan pada pemerintah daerah. Departement pendidikan pusat seharusnya hanya mengurusi garis besar-nya saja


12. Faktor ketidak berdayaan hukum
diajarkan tentang hukum, sementara mereka melihat hukum dilanggar dimana-mana. Tidak ada konsistensi antara pengajaran dengan kenyataan. Praktisi pendidikan yang melakukan pelanggaran hukum tidak mendapat sanksi, bahkan tidak diusut sama sekali. Lembaga-lembaga penjual gelar beroperasi tanpa hambatan. Mungkin karena pelanggannya adalah praktisi hukum. Hak cipta tidak di hargai di negeri ini. Akibatnya, penelitian dan penciptaan karya-pun tidak dihargai
14. faktor sosial budaya
Budaya yang kita serap dari masyarakan Barat lebih banyak budaya gelar intelektualnya, bukan budaya intelektual itu sendiri. Saya heran mengapa rektor-rektor kita harus menggunakan pakaian lucu saat melakukan wisuda, demikian pula para wisudawan kita. Pakaian dari budaya yang sudah hilang kita gunakan untuk menyerap budaya gelar intelektual itu. Tetapi budaya intelektual, penelitian, pemikiran logis dan dialog rasional belum kita milik
15. mengapa pendidikan dapat terus lebih mahal tetapi kelihatannya tidak lebih bermutu.
Memang banyak orang merasa bahwa mereka mengerti masalah-masalahnya dan menyebutkan solusinya, misalnya: Sekolah dan kampus harus menurunkan biayanya – Bagaimana mungkin? Sebetulnya pendidikan di negara ini sudah relatif murah, apa lagi dibanding negara lain, dan kita perlu memikirkan itu sekarang.

Perbaikan kualaitas pendidikn di indonesia
Ilmu itu laksana cahaya. Ketika seseorang berilmu, maka ia mampu menerangi sekitarnya yang masih gelap wawasan. Dunia ini terus berkembang dan ilmu adalah kunci untuk mencerna perkembangan zaman ini. Itulah mengapa pendidikan selalu menjadi titik kebangkitan suatu bangsa. Itulah mengapa orang selalu mencari pendidikan. Knowledge is power.
Negara tetangga seperti Australia, Singapura, dan Malaysia telah menjadi destinasi favorit bagi pelajar dalam mengejar pendidikan. Negara-negara tersebut mempunyai kualitas pendidikan yang bermutu sehingga mereka bahkan dapat menarik pelajar dari luar negaranya. Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia harus menetapkan target yang realistis. Sebelum bermimpi menjadi negara favorit dalam bidang pendidikan seperti ketiga negara di atas, Indonesia perlu terlebih dahulu memastikan bahwa pendidikan yang bermutu di Indonesia telah menyentuh semua kalangan. Tiga fokus utama dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia adalah infrastruktur, kurikulum, dan pengajar.
1. Infrastruktur
Hal yang paling mudah untuk dikritisi adalah infrastruktur sekolah. Sering sekali kita mendengar berita bahwa atap sekolah ambruk, bahkan ketika kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung. Kerusakan tanpa terdeteksi mengurangi keamanan bagi pelajar dan pengajar, seperti bahaya yang mengancam tiba-tiba. Alasan umum adalah bangunan sekolah tersebut dibangun puluhan tahun lalu (kemungkinan besar saat sekolah Inpres gencar dibangun) namun tak pernah disentuh oleh perawatan. Perawatan tak pernah hadir karena anggaran untuk itu juga tak pernah ada. Masalah lain yang sering menyeruak adalah minimnya fasilitas bagi pelajar untuk melakukan praktikum. Fasilitas lainnya yang sering absen adalah fasilitas untuk bermain dan berolahraga. Ketiadaan sarana bermain membuat pelajar bermain di jalan-jalan (yang akhirnya berevolusi menjadi tawuran) dan sedikitnya sarana olahraga membuat pelajar mesti melakukan olahraga di tempat yang berbiaya, seperti menyewa lapangan futsal. Masalah ini penting karena pembinaan jasmani dan praktik di lapangan adalah teman dari pelajaran mental dan teori di kelas. Keseimbangan antara teori dan praktik adalah vital dalam pertumbuhan wawasan manusia.

2. Kurikulum
Materi yang diajarkan di sekolah selalu mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan. Di Indonesia, kurikulum sering berganti dengan alasan menyesuaikan tuntutan zaman dalam hal berpikir. Hal ini wajar, namun implementasi kurikulum baru juga harus memperhatikan tingkat kesiapan pelajar dan pengajar dalam mengadopsi kurikulum tersebut. Kurikulum yang mengutamakan peran aktif pelajar di kelas, misalkan, dapat diterapkan jika memang budaya aktif mencari tahu sudah tumbuh di pelajar itu sendiri. Jika belum, harus dilakukan adjustment secara bertahap di kegiatan belajar mengajar di kelas (dan kadang butuh waktu bertahun-tahun agar menyerap sebagai budaya) agar kemudian kurikulum tersebut dapat diterapkan secara nasional. Pengajar juga harus melakukan transisi, tidak hanya sekadar menjalankan. Contoh, mengikuti kurikulum baru, pengajar jarang datang dan hanya meminta siswa mencari bahasan tertentu. Jika pengajar tersebut juga tidak memberikan pengenalan awal tentang apa bahasan itu, pelajar pun juga tak akan punya sense tentang bahasan apa yang harus dicari. Pendidikan akan inefisien.
3. Pengajar
Guru dan Dosen
“Sejauh ini kualitas guru masih rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ironisnya, perhatian terhadap kualitas guru masih minim karena memperbaiki kualitas guru sama dengan mengatasi tujuh puluh persen persoalan pendidikan nasional,” ujar Rohmani. “Sayangnya, program sertifikasi guru yang ada selama ini bukan jawaban terhadap persoalan kualitas guru. Sertifikasi tersebut baru menjawab persoalan kesejahteraannya saja,” lanjutnya. Untuk itu, kata Rohmani, pendidikan kedinasan menjadi penting, terutama untuk mengatasi kesenjangan penyebaran guru. Sejauh ini sebaran guru di tanah air belum merata, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Kompas.com).
Pemerintah harus mampu meningkatkan kualitas guru dan dosen. Kualitas menjadi sangat penting, karena tugas yang di emban oleh guru dan dosen sangatlah berat yaitu menciptakan generasi penerus bangsa yang berilmu dan bermoral. Poin penting mewujudkan itu adalah dengan menghasilkan output guru atau dosen yang berilmu dan berdidikasi untuk mengajarkan ilmunya, serta bermoral yaitu moral yang sesuai dengan norma – norma yang ada di Indonesia sekarang juga. Karena menunda hal tersebut, berarti menunda kemajuan bangsa Indonesia.
Sering pula kita mendengar tentang tetapnya gaji guru di tengah naiknya harga barang konsumsi. Gaji guru yang tetap akan menjadi disinsentif bagi orang untuk bermimpi menjadi guru. Mereka akan enggan untuk menjadi guru dan tentu berimplikasi pada kelangkaan tenaga pengajar di Indonesia masa depan. Gaji yang tetap (atau termakan arus inflasi jika kita bicara secara riil) juga akan mempengaruhi kinerja guru yang kini masih mengajar. Menurut ilmu ekonomi, gaji (atau upah) adalah ganti atas apa yang telah kita korbankan. Gaji yang kecil akan merangsang orang untuk mengeluarkan pengorbanan yang kecil pula, demi menyelaraskan apa yang dikorbankan dan apa yang didapat. Hal sensitif lainnya yang sering terlupakan adalah kurangnya pengajaran nilai-nilai universal di sekolah. Beberapa institusi pendidikan terkadang masih gemar mengelompokkan pelajar berdasarkan agama atau mengutamakan putra daerah atau semacamnya.














BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Progam wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah bisa dikatakan belum berhasil secara sempurna, ini bisa dilihat dari kondisi para pelajar yang berada di desa-desa terpencil mereka perlu bekerja keras untuk menuntut ilmu agar kehidupan esok yang lebih layak. Kondisi geografis sebagai masalah utama disini sebetulnya tidak terlalu menjadi masalah yang besar bagi pelajar desa jika dibandingkan dengan pelajar di kota besar yang dalam segi apapun telah terpenuhi tapi masih banyak pelajar di kota besar yang masih bolos sekolah hanya karena alasan malas. Sebetulnya pelajar di desa lebih mempunyai niat untuk belajar dibandingkan dengan
pelajar di kota besar.
4.1 saran
untuk pemerintah agar meninjau pelaksanan rencana kerja yang sudah ada agar para pelaksana tidak menyalah gunakan rencana itu