Kamis, 10 Desember 2009

Diam - diam


Terkenang kembali kisah teman saya di SD dulu. Teman saya itu, seorang putri, seorang yang sangat pandai di mata pelajaran kesenian. Dia pandai menyanyi dan menari. Namun sayang,ia tak begitu pandai di mata pelajaran matematika dan bahasa Indonesia. Karena itulah, selain karena postur tubuhnya yang gendut, ia sering diolok – olok oleh teman kami sekelas.
Mungkin karena tidak betah diolok – olok, suatu hari ia berkata: “Kalau kalian terus menerus mengolokku, sesungguhnya itu merupakan kerugian bagi kalian”. Kami tertawa mendengarnya. Ia meneruskan: “Saya pernah membaca tentang kekalahan pasukan Mesir melawan pasukan Israel. Pasukan Mesir meremehkan pasukan Israel sehingga mereka tidak waspada disaat pasukan Israel terus menghimpun kekuatan. Hingga akhirnya pasukan Israel menggempur pasukan Mesir habis – habisan.”
“Dengan terus mengolokku, kalian akan mempercayai pikiran kalian bahwa saya tidak akan pernah bisa matematika dan bahasa Indonesia. Padahal, diam – diam saya terus belajar. Dan di saatnya nanti, saya akan mengalahkan kalian semua.”
Kami, semua tertawa terbahak mendengar perkataannya yang sok itu.
Tapi, ternyata perkataannya terbukti benar. Saat itu kami di kelas empat. Di kelas lima, teman saya yang sering menjadi bahan olok – olokan itu menjadi jauh lebih pintar dibandingkan dengan kami semua. Dia tidak terkejar, dia lulus dengan nilai paling baik.

Rabu, 09 Desember 2009

Kepekaan


“They keep telling me I should talk less, mind my own business and be more modest”
Orang tua Anne Frank meminta ia agar lebih banyak diam, mengurusi urusannya sendiri – yang berarti tidak menyibukkan diri dengan urusan orang lain, dan berlaku lebih sederhana.
Betapa hebatnya nasihat ini. Dengan banyak diam, kita akan lebih selamat dari bahaya-bahaya yang mungkin akan menimpa kita diakibatkan oleh salah bicara. Betapa sering orang membuat kesalahan persepsi atas suatu pembicaraan. Kadang pembicaraan kita ditanggapi secara salah oleh orang lain. Dengan banyak diam, kita selamat.
Mengurusi urusan kita sendiri? Ya, jika kita sibuk mengurusi urusan – urusan kita sendiri, banyak hal yang bisa kita selesaikan dan pribadi kita pun menjadi lebih baik. Mengurusi urusan - urusan orang lain hanya akan menumpulkan kita dari kekurangan – kekurangan yang harusnya kita perbaiki.
Berlaku sederhana berarti mengurangi jarak yang mungkin akan tercipta antara kita dengan orang lain. Tidak semua orang bernasib baik. Tidak semua orang memiliki kekayaan yang sama. Tak semua orang memiliki kepandaian yang setara. Dengan berlaku sederhana dalam segala hal, kita menempatkan diri kita untuk dapat diterima di semua kalangan. Ini menguntungkan.

Sabtu, 05 Desember 2009

Ketekunan adalah Kunci


Dalam Blink, Malcolm Gladwell menulis tentang ilmuwan psikologi yang tenar, Silvan Tomkins. Alkisah, seorang kolega Tomkins, Paul Ekman, mengundang Tomkins ke kediamannya dan memutarkan sebuah film tentang dua suku di Papua Nugini.
Suku pertama bernama suku Suku Luar Selatan yang ramah dan cinta damai. Sedang suku yang kedua bernama suku Kukukuku yang kejam, senang bermusuhan dan memiliki ritual homoseksual.
Ekman tidak memberitahukan sedikitpun tentang keadaan kedua suku itu. Di tengah – tengah terputarnya film itu, Tomkins meminta agar film dihentikan. Lalu dengan sangat luar biasa Tomkins berujar tentang suku Luar Selatan: “Mereka ini lembut, pemaaf dan cinta damai”. Sedang ketika menunjuk suku Kukukuku ia berujar: “Suku ini adalah sebuah suku yang kejam, dan banyak bukti yang menunjukkan mereka itu homoseks”.
Tomkins sama sekali tidak mengetahui tentang kedua suku itu sebelumnya. Ia bisa mengetahui dari wajah mereka!
Saya pernah mendengar tentang Professor Manabusato yang dengan tepat menebak apa yang akan dilakukan oleh murid – murid yang direkam di video yang ditontonnya. Padahal ia baru pertama kali menonton video itu.
Saya pernah membaca tentang Waki’, guru Imam Syafi’i yang dengan tepat mengatakan bahwa Imam Syafi’I pernah melakukan kemaksiatan sebelum bertemu dengannya.
Ini bukan perkaran ghaib. Ini bukan perdukunan. Ilmu seperti ini dapat dikuasai melalui ketekunan dalam belajar yang luar biasa.
Ketekunan adalah kunci dalam belajar.

Kamis, 03 Desember 2009

Homeschooling


Pada hari jum’at tanggal 21 Agustus 1942, Anne Frank menulis di buku hariannya: “Father wants to start tutoring me then, but we have to buy all the books first”
Anne Frank menulis kalimat ini di dalam tempat persembunyiannya. Dia tidak bisa ke sekolah karena ia dan keluarganya harus bersembunyi dari tentara NAZI.
Meski berada dalam keadaan yang sempit seperti itu, orang tua Anne Frank tetap memperhatikan pendidikan anak – anaknya. Dalam keadaan waspada dan ketakutan pendidikan tetap merupakan sesuatu yang penting.
Pelajaran bagi kita semua.

Rabu, 02 Desember 2009

How To Teach English Untuk Guru Bahasa Inggris


PUSTEKOM bekerja sama dengan British Council membangun situs untuk guru - guru bahasa Inggris SD, SMP dan SMA/SMK. Situs ini bernama How To Teach English yang beralamatkan di http://h2te.depdiknas.go.id.

Menurut Kepala PUSTEKOM: "h2te dikembangkan dan diselenggarakan berbasis komunitas. Artinya, h2te adalah miliki guru atau dengan kata lain dari, oleh dan untuk guru Bahasa Inggris. Dengan demikian, akselerasi pertambahan konten akan sangat cepat dari waktu ke waktu. h2te diharapkan akan menjadi model bagi komunitas guru mata pelajaran yang lain."

Tunggu apa lagi? Mari segera kita kesana

Selasa, 01 Desember 2009

Tidak Ada yang Gratis


“In the future, I am going to devote less time to sentimentality and more time to reality” (Anne Frank, September 1942)
Saya pernah membaca tulisan seorang teman yang ditulisnya di halaman pertama dari bukunya yang saya pinjam. Tulisan itu berbunyi: “Hari – hari kemarin, adalah janji–janji kita. Hari - hari ini adalah pembuktian dan realitas dan esok adalah kemenangan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.”
Kehidupan yang kita jalani adalah nyata. Yang terjadi, entah baik, entah buruk adalah nyata. Dan kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apapun yang terjadi kepada kita. Maka jika ada hal buruk yang menimpa kita, kita harus hadapi. Kita tidak boleh mengeluh dan menyalahkan orang lain atas kejadian buruk yang menimpa kita.
Yang paling penting adalah kita masih hidup. Dan kehidupan menuntut kita untuk terus berbuat. Terus berbuat. Tanpa jeda tanpa rehat. Istirahat adalah hanya ketika kita telah bercerai dengan kehidupan.
Menyalahkan berbagai hal di luar kita atas semua yang terjadi pada kita hanya akan menumpulkan potensi kita untuk terus berbuat. Gebukan demi gebukan memang harus kita rasakan dan hayati. Setiap kita harus berlatih untuk mengubah derita menjadi sumber semangat untuk berbuat.
Tidak ada yang gratis di luar sana. Ada harga yang harus dibayar atas semua hal yang ingin kita nikmati. Dan Tuhan menjual dengan harga yang mahal untuk kehidupan yang baik.

Senin, 30 November 2009

BEDA ANTARA ENGKAU DAN AKU


“Sometimes old people have really old-fashioned ideas, but that doesn’t mean I have to go along with them”
Kata – kata di atas diucapkan oleh Hello Silberberg, teman lelaki Anne Frank. Saya membayangkan jika kalimat itu diucapkan oleh anak – anak saya.
Terkadang kita sebagai orang tua menginginkan anak – anak kita melakukan ini dan itu dan melarang ini dan itu dan menurut kita itulah yang terbaik bagi mereka.
Namun, anak – anak kita juga dibentuk oleh lingkungan dimana mereka sering menghabiskan waktu. Ingat, mereka tidak dua puluh empat jam bersama kita. Itulah yang terkadang membuat kita dan mereka berbeda pandangan.
Ini masalah yang sangat serius menurut saya. Jika tidak diatur dengan baik, ini akan menjadi sumber pertikaian antara orang tua dengan anak – anak mereka.
Dalam masalah – masalah yang prinsip, kita harus teguh. Tidak hanya dengan memerintahkan mereka, namun juga dengan menjadi model bagi mereka. Namun untuk masalah – masalah yang “boleh”, nampaknya kita memang harus lebih toleran dengan keinginan mereka.
Tetapi, tidak mudah memang.